Cara Membangun Portfolio Online Gratis (Buat Fresh Grad yang Nggak Punya Pengalaman)

"Portfolio? Gue belum kerja, mau nge-portofolio apaan?"—itu yang gue denger dari hampir setiap fresh grad. Dan itu salah besar. Portfolio itu bukan cuma buat yang udah punya pengalaman 5 tahun. Portfolio itu showcase siapa lo, apa yang bisa lo lakuin, dan kenapa lo worth buat di-hire. Dan kabar baiknya: lo bisa bikinnya GRATIS, dalam hitungan hari, bahkan kalau lo nol pengalaman sekalipun.

1

Kenapa Fresh Grad HARUS Punya Portfolio Online

Di era 2026, CV alone udah nggak cukup. Recruiter rata-rata spend 6-8 detik di CV lo—tapi mereka bisa spend 2-3 menit di portfolio online lo kalau menarik. Portfolio nunjukin hal yang CV nggak bisa: proses berpikir lo, cara lo solve problem, visual sense lo, dan personality lo.

Data yang perlu lo tau: Menurut survey LinkedIn 2025, kandidat yang punya portfolio online 40% lebih likely dipanggil interview. Di Indonesia, tren ini makin kuat—terutama di industri kreatif, tech, marketing, dan data. Bahkan untuk posisi non-kreatif seperti finance atau HR, portfolio nunjukin lo punya digital literacy dan initiative.

"Tapi gue nggak punya project!" Yes, lo punya. Skripsi lo itu project. Tugas kuliah terbaik lo itu project. Side project iseng lo itu project. Volunteer work lo itu project. Yang lo butuh bukan "pengalaman"—yang lo butuh adalah framing yang tepat.

💡 Mindset Shift

Portfolio bukan "galeri karya masterpiece." Portfolio adalah "evidence bahwa gue bisa mikir, bikin, dan deliver." Kualitas framing > kuantitas pengalaman.

📊 Data Portfolio Indonesia

Menurut survei JobStreet Indonesia 2025, hanya 23% fresh grad yang punya portfolio online saat apply kerja. Tapi dari yang dipanggil interview, 61% punya portfolio. Artinya: lo bisa langsung masuk top 23% cuma dengan bikin portfolio—dan peluang lo dipanggil naik hampir 3x lipat. Di industri tech dan kreatif, angka ini bahkan lebih tinggi: 78% hiring manager bilang mereka lebih prefer kandidat dengan portfolio.

📌 Cerita Rina: Dari Nol Portfolio ke 3 Interview

Rina, fresh grad Sastra Inggris dari UNPAD, hampir nggak ngelamar kerja karena merasa "nggak punya skill teknis." Tapi setelah bikin portfolio Notion dalam 3 hari, isi dia: 2 terjemahan novel buat tugas akhir, 1 blog post review buku, dan 1 project content plan buat brand skincare lokal. Dua minggu setelah share di LinkedIn, dia dipanggil 3 interview—dua di agency digital, satu di startup edtech. "Portfolio gue jadi ice breaker di setiap interview," kata Rina. "Mereka langsung nanya soal project content plan itu, dan gue bisa cerita prosesnya dari riset sampe eksekusi."

2

Platform Gratis: Mau Bikin di Mana?

Ada banyak pilihan, dan lo nggak perlu coding skill buat semuanya. Ini breakdown platform terbaik, sesuai kebutuhan lo:

Notion

💰 GRATIS

Drag-and-drop, template banyak, bisa custom domain. Cocok buat: semua jurusan, especially non-tech.

Best for: simpel, cepet, no-fuss.

GitHub Pages

💰 GRATIS

Static website, host gratis, bisa pakai Jekyll/Hugo. Cocok buat: anak IT, CS, data science.

Best for: tech-savvy, mau nunjukin coding skill.

Canva Website

💰 GRATIS (Pro: Rp 95rb/bln)

Visual-first, drag-and-drop, template aesthetic. Cocok buat: desainer, content creator, marketer.

Best for: portfolio visual yang stunning.

Carrd

💰 GRATIS (Pro: $19/thn)

One-page website, cepet banget setup-nya. Cocok buat: link-in-bio, landing page personal.

Best for: minimalis, "keep it simple."

Behance

💰 GRATIS

Platform Adobe, community besar. Cocok buat: desainer grafis, illustrator, UI/UX.

Best for: karya visual yang butuh exposure.

Google Sites

💰 GRATIS

Super gampang, integrasi Google ecosystem. Cocok buat: quick setup, siapa aja.

Best for: lo yang pengen selesai dalam 1 jam.

📌 Rekomendasi Gue

Kalau lo non-tech: Notion atau Canva Website. Setup 1-2 jam, hasil profesional.
Kalau lo tech: GitHub Pages + custom domain. Nunjukin lo bisa deploy sendiri.
Kalau lo desperate butuh sekarang: Google Sites. Serius, bisa jadi dalam 30 menit.

🔑 Platform Mana yang Cocok buat Lo?

PertimbanganNotionGitHub PagesCanvaGoogle SitesCarrd
Waktu setup1-2 jam3-6 jam1-2 jam30 menit15 menit
Butuh coding?❌ Nggak✅ Ya (basic)❌ Nggak❌ Nggak❌ Nggak
Custom domain✅ Ya✅ Ya✅ (Pro)✅ Ya✅ (Pro)
SEO-friendly⚠️ Medium✅ Bagus⚠️ Medium⚠️ Medium⚠️ Medium
Mobile responsive✅ Auto⚠️ Tergantung✅ Auto✅ Auto✅ Auto
Best buatSemua jurusanAnak IT/CSDesainer/CreatorQuick setupMinimalis
⚠️ Hindari Wix Free Plan

Jangan bikin portfolio di Wix free plan. Lo bakal dapat watermark "Made with Wix" dan URL aneh (username.wixsite.com/namalo). Ini keliatan nggak profesional. Lebih baik pakai Notion atau Google Sites yang clean tanpa branding pihak ketiga yang ganggu.

3

Apa yang Harus Ada di Portfolio Lo (Template Inside)

Portfolio yang baik punya struktur yang jelas. Lo nggak perlu semua section ini—pilih yang relevan dengan background lo:

1. Hero Section (Wajib). Nama lo, satu kalimat siapa lo, dan foto profesional (atau ilustrasi). Contoh: "Rizky Pratama — Fresh Graduate Industrial Engineering | Passionate about Process Optimization & Data Analytics." Simple, clear, memorable.

2. About Me (Wajib). 2-3 paragraf yang nunjukin personality lo. Bukan CV yang diulang—tapi cerita: kenapa lo milih jurusan itu, apa yang lo pelajari di luar kelas, apa yang lo cari di karir. Tulis kayak lo lagi ngobrol sama temen, bukan kayak lagi ngisi form.

3. Projects/Works (Wajib). Ini jantungnya. Tiap project harus punya: judul, thumbnail/preview, deskripsi singkat (apa masalahnya, apa solusi lo, hasilnya apa), tools/skills yang lo pake, dan link kalau ada (deployed app, PDF, GitHub repo). Minimal 3 project, idealnya 5-8.

4. Skills (Opsional tapi Recommended). List skill lo—tapi jangan generic ("Microsoft Office"). Lebih spesifik: "Data Analysis with Python (Pandas, Matplotlib)" atau "Content Strategy & SEO Optimization." Group by category: Technical, Tools, Soft Skills.

5. Education & Certifications. Singkat aja—nama universitas, jurusan, tahun lulus. Tambahin sertifikasi online yang relevan (Google, Coursera, Dicoding, dll). Ini nunjukin lo lifelong learner.

6. Contact / CTA (Wajib). Email, LinkedIn, dan—yang sering dilupain—kalimat ajakan. "Let's connect!" atau "Open to opportunities in data analytics." Lo harus bikin gampang buat recruiter menghubungi lo.

💡 Tip

Untuk setiap project, gunakan format STAR: Situation (konteks), Task (apa yang harus lo lakuin), Action (apa yang lo kerjain), Result (hasilnya). Ini bikin project description lo structured dan impactful, bukan cuma "saya bikin website toko online."

📋 Script: About Me yang Menarik
Konteks: Lo lagi nulis About Me di portfolio. Hindari generic intro yang boring.
Template yang Boring (JANGAN pakai ini):
"Halo, nama saya [Nama]. Saya fresh graduate dari [Universitas] jurusan [Jurusan]. Saya tertarik di bidang [X] dan sedang mencari pekerjaan."

Template yang Menarik (PAKAI ini):
"Gue [Nama], dan gue percaya bahwa [key belief tentang industri lo]. Selama 4 tahun di [Universitas], gue nggak cuma belajar [Jurusan]—gue juga [specific thing: 'nganalisis 50+ brand strategy buat tugas kuliah' atau 'ngebikin dataset sendiri soal tren belanja online Indonesia']. Sekarang, gue lagi nyari opportunity di mana gue bisa [specific goal] sambil terus [growth area]. Kalau lo punya project yang butuh [skill lo], let's talk!"
📋 Script: Deskripsi Project Pakai STAR
Konteks: Lo lagi nulis project description. Pakai STAR framework biar structured dan impactful.
Contoh: Analisis Media Sosial Kopi Kenangan

S (Situation): "Kopi Kenangan adalah brand F&B Indonesia yang pertama jadi unicorn. Tapi banyak orang nggak tau gimana mereka bikin social media presence yang powerful."

T (Task): "Gue memutuskan untuk menganalisis strategi content marketing mereka di Instagram dan TikTok selama 3 bulan terakhir."

A (Action): "Gue scrape 150+ post, categorize berdasarkan content type, engagement rate, dan posting frequency. Terus gue bikin framework yang bisa di-replicate oleh brand F&B lain."

R (Result): "Gue nemuin bahwa carousel edukatif punya engagement 3x lebih tinggi dari foto produk. Gue publish analisis ini di blog portfolio gue dan dipanggil interview di 2 agency digital."

🔑 Project Description: Bad vs Good

Element❌ Buruk✅ Baik
Judul"Website Toko Online""E-Commerce Platform UMKM: Dari Ide ke Deploy dalam 2 Minggu"
Deskripsi"Saya membuat website toko online menggunakan React""Di semester 7, gue develop platform e-commerce buat 3 UMKM di Bandung yang sebelumnya cuma jualan di WhatsApp. Hasilnya: proses checkout mereka jadi 60% lebih cepat."
Tools"React, Node.js""React 18, Tailwind CSS, Supabase (Auth + DB), Midtrans Payment Gateway, Vercel Deployment"
Hasil(tidak ada)"3 UMKM onboarded, 200+ transaksi pertama, 4.8★ user rating"
Link"github.com/namalo/toko"Live demo + GitHub repo + PDF case study
4

Nggak Punya Project? Bikin Sendiri.

Ini yang paling sering gue tekankan ke fresh grad: lo nggak harus nunggu di-hire buat bikin project. Malah, project yang lo bikin sendiri sering lebih impressive karena nunjukin initiative dan curiosity.

Ide project yang bisa lo mulai MINGGU INI:

Buat anak bisnis/marketing: Analisis social media strategy brand lokal (misal: kenapa Kopi Kenangan viral). Bikin deck-nya, upload ke portfolio. Butuh waktu: 2-3 hari.

Buat anak IT/data: Scrape data dari website publik (misal: harga properti di Jakarta), analisis, buat visualisasi. Deploy di GitHub Pages atau Streamlit. Butuh waktu: 3-5 hari.

Buat anak desain: Redesign app/website yang lo rasa UX-nya jelek. Bikin before-after, jelasin rationale lo. Upload ke Behance. Butuh waktu: 2-4 hari.

Buat semua jurusan: Tulis blog post analisis industri lo (3000+ kata, well-researched). Ini nunjukin analytical thinking dan communication skill—dua hal yang semua employer cari.

📌 Case Study: Dari Nol ke Dipanggil Interview

Gue kenal fresh grad jurusan Akuntansi yang bikin portfolio Notion. Isinya: analisis laporan keuangan startup Indonesia (berdasarkan data publik), template budgeting yang dia bikin sendiri, dan blog post soal "Mengapa Audit Internal Itu Nggak Se-Garing yang Lo Kira." Dalam 2 bulan, dia dipanggil 4 interview—dan portfolio-nya jadi topik pembicaraan di setiap interview itu.

📌 Cerita Budi: Portfolio Data Science dari Skripsi

Budi, fresh grad Statistika UNDIP, hampir nggak bikin portfolio karena merasa "skripsi gue terlalu akademik." Tapi setelah refactor, dia buat project page yang accessible: judul "Prediksi Harga Properti Jakarta dengan Machine Learning," deskripsi 200 kata yang jelasin problem → approach → result, 3 visualisasi interaktif (peta sebaran harga, chart tren, feature importance), dan link ke Streamlit app yang bisa di-play langsung. Hasilnya? Seorang hiring manager di startup proptech langsung DM dia di LinkedIn: "Gue liat portfolio lo, bisa ngobrol soal project ini?" Budi sekarang kerja di sana.

📌 Cerita Andi: Redesign App Jadi Portfolio Killer

Andi, fresh grad Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta, bikin portfolio dengan satu project yang sangat impactful: redesign aplikasi Gojek untuk user disabilitas. Dia buat 15 halaman Behance project yang detail—mulai dari user research (interview 8 user tunanetra), wireframe, hi-fi mockup, sampai usability testing result. Project ini bukan tugas kuliah, bukan freelance—murni initiative pribadi. Dalam 3 bulan, Behance project-nya dapet 2,400 views dan 300 appreciations. Dia dipanggil interview di 2 unicorn Indonesia dan 1 agency di Singapore.

📌 Cerita Sari: Portfolio Psikologi yang Nggak Biasa

Sari, fresh grad Psikologi UGM, bikin portfolio yang beda dari kebanyakan anak psikologi. Dia nggak cuma nulis "Saya tertarik di bidang HR"—tapi bikin 3 project konkret: (1) survei "Kesejahteraan Mental Fresh Grad di Masa Transisi Kerja" dengan 200 responden, visualisasi data-nya dibikin cantik di Canva, (2) rekomendasi program onboarding berdasarkan studi kasus 5 startup Indonesia, dan (3) template employee satisfaction survey yang dia desain sendiri. Portfolio Notion-nya rapi, profesional, dan nunjukin bahwa dia nggak cuma ngerti teori—tapi bisa apply di konteks bisnis. Hasilnya: dia dipanggil interview di divisi People & Culture startup edtech dalam waktu 3 minggu.

💡 Tools Gratis buat Bikin Portfolio Lo Maksimal

Foto profesional: pakai remove.bg buat hapus background, terus ganti dengan warna solid atau gradient. Mockup project: Canva punya ribuan template mockup laptop/HP gratis. QR code: qr-code-generator.com — taruh di CV biar recruiter scan langsung ke portfolio. Performance test: PageSpeed Insights (pagespeed.web.dev) buat cek loading time. Screenshot semua halaman: screenshot.guru buat archive portfolio lo secara berkala.

🔑 Ide Project by Jurusan

JurusanProject IdeaToolsWaktu
Akuntansi/FinanceAnalisis laporan keuangan startup go-publicExcel, Google Sheets, Notion3-4 hari
Marketing/ManajemenBrand audit + content strategy deck buat brand lokalCanva, Figma, Google Slides2-3 hari
Teknik InformatikaWeb app solve problem nyata (budgeting, habit tracker)React/Vue, Supabase, Vercel5-7 hari
Sastra/KomunikasiBlog long-form + transcreation projectWordPress, Medium, Notion2-3 hari
Desain Grafis/DKVRedesign UX app/website lokalFigma, Adobe XD, Behance3-5 hari
PsikologiMini riset: survei + analisis tentang topik sosialGoogle Forms, SPSS, Canva3-4 hari
Teknik/IndustriProcess improvement case study (studi kasus pabrik)Excel, Visio, PowerPoint3-5 hari
HukumAnalisis kasus hukum viral + opini hukumNotion, Google Docs2-3 hari
💡 Fake It Till You Make It (Legal Version)

Lo bisa bikin spec project buat brand yang belum pernah hire lo. Misal: "Content Strategy Proposal untuk Kopiko Indonesia"—lo bikin deck lengkap, riset competitor, ide konten, dan rekomendasi. Ini bukan bohong—ini showcasing thinking process lo. Taruh di portfolio sebagai "Personal Project / Spec Work" biar jelas. Banyak creative director yang appreciate initiative kayak gini.

5

SEO Portfolio Lo Biar Gampang Ditemukan

Portfolio yang bagus tapi nggak ada yang nemu = useless. Lo harus bikin portfolio lo searchable. Ini basic SEO yang bisa lo apply:

Pakai nama lo sebagai domain. Kalau bisa, beli domain namalo.com (Rp 100-150rb/thn di Niagahoster/Dewaweb). Kalau budget ketat, subdomain gratis juga oke (namalo.notion.site, github.io/namalo). Yang penting: URL lo harus professional dan gampang di-share.

Optimize judul dan meta description. Di title tag, tulis: "Nama Lo — [Skill/Jurusan] | Portfolio." Di meta description: satu kalimat tentang siapa lo + apa yang lo tawarkan. Ini yang muncul di Google search result.

Link portfolio lo DI MANA-MANA. LinkedIn headline, email signature, CV, Instagram bio, Twitter bio. Setiap touchpoint harus nunjukin ke portfolio. Lo bahkan bisa bikin QR code yang link ke portfolio lo—taruh di CV fisik.

⚠ Common Mistake

Banyak fresh grad yang bikin portfolio tapi nggak pernah share. Portfolio bukan diary—ini marketing material lo. Share ke LinkedIn, kirim ke recruiter langsung, masukin di email lamaran. Passive portfolio = no portfolio.

📊 Data: Portfolio SEO Impact

Portfolio yang ter-optimasi SEO bisa nongol di halaman 1 Google untuk pencarian "nama lo + jurusan." Dari 100 fresh grad yang gue survey, yang portfolio-nya muncul di Google (halaman 1-2) dapet 2.5x lebih banyak inquiry dari recruiter. Investasi: Rp 100-150rb/tahun buat domain .com. ROI: potentially ratusan juta dari gaji pertama lo.

⚠️ Taruh Link Portfolio DI MANA-MANA

Banyak fresh grad yang udah bikin portfolio tapi cuma taruh di CV. Itu sayang banget! Taruh link di: LinkedIn headline (bukan cuma contact info—masukin di headline!), email signature (setiap email jadi free marketing), Instagram bio (kalau content creator), QR code di CV fisik (bikin gratis di qr-code-generator.com), dan WhatsApp status (update pas lagi job hunting). Semakin banyak touchpoint, semakin besar chance recruiter nemu lo.

📋 Script: Optimasi Meta Title & Description
Konteks: Lo harus nulis meta title dan description buat portfolio lo. Ini yang muncul di Google search result.
Meta Title Formula: "[Nama Lo] — [Skill/Jurusan] | Portfolio Online"

Contoh: "Rina Putri — Content Writer & Digital Marketing | Portfolio Online"

Meta Description Formula: "[Nama], [jurusan] fresh grad dari [kampus]. Spesialisasi di [2-3 skill]. Lihat project [X], [Y], [Z]. Open to opportunities in [industri]."

Contoh: "Rina Putri, Sastra Inggris fresh grad dari UNPAD. Spesialisasi di content writing, translation, dan digital marketing. Lihat project analisis brand, content plan, dan blog post. Open to opportunities in creative agency & edtech."
6

Maintenance: Portfolio Itu Hidup, Bukan Patung

Banyak orang yang bikin portfolio sekali terus ditinggal. 6 bulan kemudian, infonya outdated, link-nya mati, dan project-nya masih cuma 2. Portfolio yang baik itu living document—lo harus update secara berkala.

Rutinitas yang gue saranin: Setiap bulan, tambahin 1 project atau update existing project. Setiap 3 bulan, review dan refresh "About Me" section (lo pasti berkembang). Setiap 6 bulan, cek semua link, update skills, dan review design.

Pro tip: Setiap kali lo selesai project baru—di kantor, freelance, volunteer, atau personal—langsung dokumentasikan. Ambil screenshot, catat hasilnya, tulis description-nya. Jangan nunggu sampai 3 bulan kemudian—lo bakal lupa detailnya.

✅ DO

  • Bikin portfolio SEKARANG, perfect later
  • Minimal 3-5 project (quality > quantity)
  • Include process, bukan cuma hasil
  • Mobile-friendly design
  • Update setiap bulan
  • Share di LinkedIn & email signature
  • Pakai foto profesional (bukan selfie)
  • Include clear CTA di contact section

❌ DON'T

  • Tunggu "sempurna" baru publish
  • Include SEMUA yang pernah lo kerjain
  • Pakai domain aneh-aneh (coolboy99.com)
  • Music autoplay di background
  • Font yang susah dibaca
  • Loading time > 5 detik
  • Link yang mati atau broken
  • Copy-paste dari template tanpa personalisasi

🔑 Checklist: Portfolio Launch (Cek Semua Sebelum Share!)

  • ☐ Hero section: nama, foto profesional, one-liner siapa lo
  • ☐ About Me: 2-3 paragraf, personality-driven, bukan copy-paste CV
  • ☐ Minimal 3 project dengan STAR-format description
  • ☐ Setiap project punya thumbnail/preview visual
  • ☐ Skills section: spesifik, grouped by category
  • ☐ Education + minimal 1 sertifikasi online
  • ☐ Contact section: email, LinkedIn, CTA yang jelas
  • ☐ Semua link working (test di HP dan laptop!)
  • ☐ Loading time < 3 detik (test di PageSpeed Insights)
  • ☐ Mobile-friendly (test di 3 ukuran layar berbeda)
  • ☐ Domain: custom atau subdomain yang professional
  • ☐ Meta title dan description ter-optimasi

🔑 Checklist: Portfolio Maintenance Bulanan

  • ☐ Tambahkan minimal 1 project baru atau update existing
  • ☐ Cek semua link (termasuk link external)
  • ☐ Review "About Me" — masih relevan nggak?
  • ☐ Update skills kalau ada yang baru dipelajari
  • ☐ Screenshot page di mobile — masih rapi?
  • ☐ Share 1 project di LinkedIn dengan caption storytelling
📋 Script: Share Portfolio di LinkedIn
Konteks: Lo baru selesai bikin atau update portfolio. Saatnya share biar recruiter liat.
"Senang banget akhirnya publish portfolio pertama gue! 🎉

Sebagai fresh graduate [Jurusan] dari [Universitas], gue sadar CV aja nggak cukup buat nunjukin apa yang bisa gue lakuin. Jadi gue bikin portfolio yang nge-highlight:

🔹 [Project 1] — [one-liner]
🔹 [Project 2] — [one-liner]
🔹 [Project 3] — [one-liner]

Yang gue pelajari: bikin portfolio itu bukan soal punya pengalaman 10 tahun—tapi tentang gimana lo nge-frame apa yang udah lo pelajari dan kerjain.

Link di bio! Feedback sangat welcome 🙏

#freshgraduate #portfolio #[jurusanlo] #jobsearch #indonesia"
⚠️ 7 Kesalahan Fatal Portfolio Fresh Grad
#KesalahanKenapa FatalFix-nya
1Portfolio kosong / cuma 1 projectRecruiter mikir lo nggak seriusMinimal 3 project (termasuk self-initiated)
2Nggak ada kontak info yang jelasRecruiter pengen hubungi lo tapi nggak bisaEmail + LinkedIn + CTA di setiap halaman
3Design berantakan / template defaultKesan pertama = lo nggak effortMinimalis aja, clean > ramai
4Project description cuma 1 kalimatRecruiter nggak tau depth loPakai STAR framework, 100-200 kata/project
5Domain gratis yang anehKeliatan nggak profesionalBeli .com / pakai subdomain clean
6Nggak pernah di-updateInfo outdated = red flagUpdate minimal sebulan sekali
7Portfolio nggak pernah di-shareBikin tapi nobody tau = uselessShare di LinkedIn setiap update
📋 Script: Email Lamaran dengan Portfolio
Konteks: Lo lagi kirim lamaran kerja via email. Portfolio harus prominently featured.
Subject: Application: [Posisi] — [Nama Lo] | Portfolio Terlampir

Yth. Bapak/Ibu HR [Nama Perusahaan],

Dengan hormat, saya [Nama Lo], fresh graduate [Jurusan] dari [Universitas], ingin melamar posisi [Posisi] di [Perusahaan].

Sebagai referensi, saya melampirkan:
1. CV terbaru
2. Portfolio online: [link portfolio]

Di portfolio saya, Bapak/Ibu bisa melihat [2-3 project terbaik lo] yang relevan dengan posisi ini. Saya tertarik dengan [Perusahaan] karena [alasan specific].

Saya sangat berharap bisa berdiskusi lebih lanjut. Terima kasih atas waktu dan pertimbangannya.

Hormat saya,
[Nama Lo]
[No. HP] | [LinkedIn URL] | [Portfolio URL]

Portfolio Lo Dimulai dari Satu Langkah

Buka Notion atau Google Sites sekarang. Isi nama lo, tulis "About Me" 3 kalimat, tambahin 1 project. Lo baru aja bikin portfolio pertama lo. Nggak sesulit itu, kan?

Mulai Bangun di Jalur Samping →
🚀

CV Lo Udah Siap Belum?

Udah baca tipsnya? Sekarang cek CV lo langsung. Gratis, 2-5 menit, hasilnya instant.

Audit CV Gratis → Gratis • 2-5 menit • Bayar hanya saat download